Sejarah Huruf Hangeul: Identitas dan Kebanggaan Bangsa Korea


Awal Mula Sistem Tulisan Korea

Hangeul merupakan sistem tulisan resmi Korea yang digunakan hingga saat ini. Dibandingkan dengan alfabet lain di dunia, Hangeul tergolong sangat muda karena baru diciptakan pada tahun 1446 Masehi. Meskipun usianya relatif muda, Hangeul dikenal sebagai salah satu sistem alfabet paling ilmiah dan mudah dipelajari.

Sebelum adanya Hangeul, masyarakat Korea menggunakan sistem tulisan Hanja yang berasal dari Tiongkok. Hanja digunakan dalam pemerintahan, sastra, pendidikan, hingga administrasi negara. Sistem ini berbasis logografis, yaitu setiap simbol mewakili makna tertentu, bukan bunyi seperti alfabet modern.


Kesulitan Menggunakan Hanja

Penggunaan Hanja menimbulkan banyak kesulitan bagi masyarakat Korea. Untuk dapat membaca dan menulis, seseorang harus menghafal ribuan karakter. Karena itu, hanya kalangan bangsawan, pejabat, dan sarjana yang mampu mempelajarinya.

Selain sulit dipelajari, Hanja juga kurang sesuai dengan bahasa Korea karena struktur dan pengucapannya berbeda dengan bahasa Tiongkok. Akibatnya, rakyat biasa tidak memiliki akses pendidikan yang memadai dan banyak masyarakat Korea mengalami buta huruf.

Pada masa itu, rakyat kecil tidak bisa menulis surat, menyampaikan pendapat, ataupun mempelajari ilmu pengetahuan secara luas. Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada tradisi lisan.


Raja Sejong dan Lahirnya Hangeul

Melihat kondisi tersebut, Raja Sejong yang Agung berinisiatif menciptakan sistem tulisan baru yang lebih sederhana dan mudah dipahami rakyat. Raja Sejong lahir pada tahun 1397 di masa Dinasti Joseon dan dikenal sebagai pemimpin yang cerdas serta peduli terhadap pendidikan masyarakat.

Bersama para ilmuwan istana, Raja Sejong merancang alfabet yang mampu merepresentasikan bunyi bahasa Korea dengan tepat. Tujuannya adalah agar seluruh rakyat, tanpa memandang status sosial, dapat belajar membaca dan menulis.

Pada tanggal 9 Oktober 1446, sistem tulisan baru bernama Hunminjeongeum resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Nama tersebut berarti “bunyi yang benar untuk mendidik rakyat”. Hari tersebut kini diperingati sebagai Hari Hangeul di Korea Selatan.


Penolakan dari Kalangan Bangsawan

Walaupun Hangeul membawa banyak manfaat, sistem tulisan ini sempat ditolak oleh kalangan bangsawan atau Yangban. Mereka menganggap Hanja sebagai simbol pendidikan tinggi dan status sosial.

Para bangsawan khawatir Hangeul akan menghapus perbedaan antara kaum elit dan rakyat biasa. Karena alasan tersebut, penggunaan Hangeul pada awalnya lebih banyak berkembang di kalangan perempuan, rakyat biasa, dan penulis sastra rakyat.

Namun, karena lebih mudah dipelajari, Hangeul perlahan mulai diterima oleh masyarakat luas.


Hangeul pada Masa Penjajahan Jepang

Pada tahun 1910, Korea dijajah oleh Jepang. Pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Korea dalam berbagai bidang dan menggantinya dengan bahasa Jepang. Kondisi ini mengancam keberadaan Hangeul.

Meski demikian, organisasi bernama Korean Language Society berjuang mempertahankan Hangeul melalui pendidikan dan penelitian bahasa Korea. Berkat perjuangan tersebut, Hangeul tetap bertahan hingga akhirnya Korea merdeka kembali.


Hangeul di Era Modern

Saat ini, Hangeul menjadi simbol identitas dan kebanggaan bangsa Korea. Sistem tulisan ini digunakan di Korea Selatan dan Korea Utara dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, media, dan budaya populer.

Selain mudah dipelajari, Hangeul juga dianggap sebagai salah satu alfabet paling efisien di dunia. Tidak heran jika banyak orang asing tertarik mempelajari bahasa Korea melalui Hangeul.

Hangeul bukan hanya sekadar huruf, tetapi juga warisan budaya yang menunjukkan semangat pendidikan, persatuan, dan identitas bangsa Korea.

Previous Post Next Post